[Singkawang] PERLU BANTUAN DONATUR
Budi RahayuThu, 01 May 2008 18:08:24 -0700
*Jumat, 2 Mei 2008*
*Biaya Operasi Capai Rp 250 Juta, Butuh Bantuan
* *Fendi Saputra, Menderita Tumor di Mata *
[image: TUMOR: Fendi Saputra (2,9) tahun menderita tumor di mata bagian
kiri. FOTO ISTIMEWA]
*Pontianak,-* Setiap hari Fendi Saputra (2,9 tahun) hanya menanggis menahan
sakit. Tubuh kecilnya dipaksa sudah menghadapi derita ini, karena sakit luar
biasa di bagian mata sebelah kiri. Ada pembengkakan besar yang membuat
balita kelahiran 7 Mei 2005 tak berdaya menghadapi hidup. Anak warga
keturunan tionghoa pasangan Liu Kong Kui dan Then Jie Fong ini membutuhkan
uluran tangan para dermawan.
Catatan Deny Hamdany-Pontianak
Herry Z AR, tokoh pemuda Desa Kuala Dua yang menemukan pasien tak berdaya
mengungkapkan kesusahan Fendi—sapaan balita dan keluarganya ini. "Jangankan
bayar biaya pengobatan untuk makan sehari-hari saja, Liu Kong Ku—kepala
keluarga sudah kesusahan luar biasa," katanya menyampaikan keprihatinan atas
keluarga Fendi, korban pembengkakan mata kepada wartawan harian ini.
Menurutnya pembekakan mata Fendi sudah tiga bulan yang lalu dialami.
Awalnya, berasal dari bintik merah lantas dikucek hingga terjadi semacam
benjolan. Semakin hari makin besar seperti ada sesuatu yang keluar hingga
terjadi benjolan yang ukurannya hampir mencapai 50 cm.
Liu Kong Kui sendiri memang tidak berdaya untuk mengobatinya. Semenjak
perusahaan kayu yang ada di Kecamatan Sei-Raya (Kab.Pontianak) banyak tutup,
otomatis pekerjaan tetap belum ada. Mengisi makan sehari-hari keluarga
banyak dihabiskan dari mengambil upah serabutan bertani dan lain-lainnya.
"Tetapi, tetap saja tidak mencukupi. Jangankan untuk pengobatan anaknya,
untuk makan tidak jarang para tetangga yang membantu," beber Herry yang juga
Ketum DPD PNI Marhainisme ini.
Malangnya ternyata salah satu keluarga miskin ini tidak memiliki Askeskin,
yang digemborkan Dinkes Kabupaten Pontianak terdata dengan baik dan akurat.
Bahkan dengan kondisi rumah dan tempat tinggal seadanya, pasien yang satu
ini tidak terdata dalam data keluarga miskin. "Walaupun begitu, orang tua
beberapa kali membawa ke puskesmas maupun rumah sakit dengan biaya sendiri
dari pinjam kesana kemari," katanya bercerita.
Saat merujuk pasien dimaksud ke puskesmas ataupun rumah sakit kondisi Fendy
ternyata sudah terlalu parah. Ia sudah seharusnya dioperasi ke Jakarta
dengan biaya yang direkomendasikan dokter mencapai Rp250 juta rupiah. "Maka
dari itu, melalui rubrik Pontianak Post ini saya mengharapkan sekali bantuan
para dermawan untuk meringankan bebannya sekaligus membawa Fendi dirujuk ke
Jakarta," harapnya.
2Selain mengobati dengan cara modern, Liu Kong Kui beberapa kali pula
membawa anaknya berobat kampong. Cukup banyak pengobatan alternatif yang
sudah dicobanya, namun tetap saja belum mampu teratasi dengan baik. Sebelum
itu, bahkan sudah wakil rakyat Kabupaten Pontianak pernah berkunjung ke
tempatnya. "Tetapi sampai sekarang belum terealisasi," ujar Herry kembali.
(*)
*Biaya Operasi Capai Rp 250 Juta, Butuh Bantuan
* *Fendi Saputra, Menderita Tumor di Mata *
[image: TUMOR: Fendi Saputra (2,9) tahun menderita tumor di mata bagian
kiri. FOTO ISTIMEWA]
*Pontianak,-* Setiap hari Fendi Saputra (2,9 tahun) hanya menanggis menahan
sakit. Tubuh kecilnya dipaksa sudah menghadapi derita ini, karena sakit luar
biasa di bagian mata sebelah kiri. Ada pembengkakan besar yang membuat
balita kelahiran 7 Mei 2005 tak berdaya menghadapi hidup. Anak warga
keturunan tionghoa pasangan Liu Kong Kui dan Then Jie Fong ini membutuhkan
uluran tangan para dermawan.
Catatan Deny Hamdany-Pontianak
Herry Z AR, tokoh pemuda Desa Kuala Dua yang menemukan pasien tak berdaya
mengungkapkan kesusahan Fendi—sapaan balita dan keluarganya ini. "Jangankan
bayar biaya pengobatan untuk makan sehari-hari saja, Liu Kong Ku—kepala
keluarga sudah kesusahan luar biasa," katanya menyampaikan keprihatinan atas
keluarga Fendi, korban pembengkakan mata kepada wartawan harian ini.
Menurutnya pembekakan mata Fendi sudah tiga bulan yang lalu dialami.
Awalnya, berasal dari bintik merah lantas dikucek hingga terjadi semacam
benjolan. Semakin hari makin besar seperti ada sesuatu yang keluar hingga
terjadi benjolan yang ukurannya hampir mencapai 50 cm.
Liu Kong Kui sendiri memang tidak berdaya untuk mengobatinya. Semenjak
perusahaan kayu yang ada di Kecamatan Sei-Raya (Kab.Pontianak) banyak tutup,
otomatis pekerjaan tetap belum ada. Mengisi makan sehari-hari keluarga
banyak dihabiskan dari mengambil upah serabutan bertani dan lain-lainnya.
"Tetapi, tetap saja tidak mencukupi. Jangankan untuk pengobatan anaknya,
untuk makan tidak jarang para tetangga yang membantu," beber Herry yang juga
Ketum DPD PNI Marhainisme ini.
Malangnya ternyata salah satu keluarga miskin ini tidak memiliki Askeskin,
yang digemborkan Dinkes Kabupaten Pontianak terdata dengan baik dan akurat.
Bahkan dengan kondisi rumah dan tempat tinggal seadanya, pasien yang satu
ini tidak terdata dalam data keluarga miskin. "Walaupun begitu, orang tua
beberapa kali membawa ke puskesmas maupun rumah sakit dengan biaya sendiri
dari pinjam kesana kemari," katanya bercerita.
Saat merujuk pasien dimaksud ke puskesmas ataupun rumah sakit kondisi Fendy
ternyata sudah terlalu parah. Ia sudah seharusnya dioperasi ke Jakarta
dengan biaya yang direkomendasikan dokter mencapai Rp250 juta rupiah. "Maka
dari itu, melalui rubrik Pontianak Post ini saya mengharapkan sekali bantuan
para dermawan untuk meringankan bebannya sekaligus membawa Fendi dirujuk ke
Jakarta," harapnya.
2Selain mengobati dengan cara modern, Liu Kong Kui beberapa kali pula
membawa anaknya berobat kampong. Cukup banyak pengobatan alternatif yang
sudah dicobanya, namun tetap saja belum mampu teratasi dengan baik. Sebelum
itu, bahkan sudah wakil rakyat Kabupaten Pontianak pernah berkunjung ke
tempatnya. "Tetapi sampai sekarang belum terealisasi," ujar Herry kembali.
(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar